Catatan Apel Pagi: Pelayanan Bersih dan Pentingnya Peran Orang Tua sebagai upaya Pencegahan ABH

Dinas Sosial Kabupaten Bantul (Dinsos) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan yang bersih dan berintegritas. Dalam apel pagi yang dipimpin oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Ibu Kartika Cahyani, S.H., M.Hum., ditekankan dengan sangat tegas bahwa seluruh bentuk pelayanan di Dinas Sosial Kabupaten Bantul sama sekali tidak dipungut biaya apa pun alias gratis. Karena itu, seluruh pegawai dilarang keras mengambil keuntungan pribadi dari pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

 

Komitmen pelayanan publik ini berjalan selaras dengan kepekaan Dinsos terhadap isu-isu sosial yang kian memprihatinkan di tengah masyarakat. Mengutip data dari BKKBN, saat ini tingkat fatherless (kehilangan figur ayah) di Indonesia telah mencapai angka 25%. Fenomena ini berkaitan erat dengan ketugasan Dinsos, terutama dalam melakukan Pendampingan Anak yang Berhadapan dengan Hukum.

 

Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana.

 

Keterkaitan antara ABH dengan isu fatherless ini muncul salah satunya karena perilaku anak sejatinya tumbuh dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Oleh karena itu, keseimbangan peran antara ayah dan ibu sangat lah krusial di dalam rumah. Ketika ibu sedang menyelesaikan pekerjaan rumah, ayah harus hadir mengambil peran untuk mendampingi anak. Terlebih jika kedua orang tua sama-sama bekerja, berbagi peran dalam mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga menjadi kunci yang sangat penting.

 

Sebaliknya, kurangnya kehadiran dan figur orang tua di rumah dapat menyebabkan anak mudah terpapar hal-hal negatif. Salah satu contoh nyata adalah ketika orang tua terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, lalu memberikan gadget kepada anak hanya untuk mengalihkan perhatiannya. Akibatnya, anak dapat terpapar berbagai informasi yang belum tentu baik, yang pada akhirnya berimbas buruk pada perilaku mereka di lingkungan luar.

 

Secara khusus, dampak negatif ini juga mengintai anak-anak yang kurang memiliki figur peran seorang ayah. Salah satu imbasnya, mereka menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh sosok laki-laki asing di luar rumah, yang bisa jadi memiliki niat kurang baik terhadap anak tersebut.

 

Oleh karena itu, Ibu Kartika Cahyani mengajak seluruh peserta apel untuk merefleksikan kembali pentingnya menjaga anak-anak kita dengan hadir secara nyata di dunia mereka. Kehadiran penuh dari orang tua ini sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran, rasa aman, dan rasa cinta yang utuh bagi mereka.

 

Ingatlah selalu, gadget tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayang orang tua yang hilang. 

 

Anak yang menjadi ABH tidak begitu saja lahir sebagai ABH, ABH dibentuk dan muncul dari akar yang dapat dicegah pertumbuhannya.